Pertukaran Mahasiswa Merdeka

4 menit

Keberanian mencoba hal baru dapat mengantarkan pada pengalaman berharga. Meski begitu, keluar dari zona nyaman bukanlah hal yang mudah. Mulai dari membangun rutinitas baru hingga bekerja sama dengan berbagai karakter manusia yang membutuhkan proses dan penyesuaian. Pengalaman inilah yang dirasakan Anwar, Social Media Specialist Intern saat mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) di Tanah Daeng.

Tanah Daeng merupakan julukkan Kota Makassar yang artinya merujuk pada seseorang yang merdeka dan sudah terbebas dari perbudakan. Hal ini menempatkan orang tersebut dengan status sosial yang lebih baik. Dari sinilah awal mula perjalanan Anwar bertumbuh dan berkembang lebih baik bersama dengan mahasiswa seluruh Indonesia.

Apa Itu PMM?

Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) adalah program pertukaran mahasiswa dalam negeri untuk bertukar ke kampus lain di luar pulau. Anwar yang berasal dari Jawa tidak diperbolehkan memilih kampus-kampus asal Jawa. Ia harus memilih kampus lain di luar pulau Jawa. Anwar memilih pilihan pertama di UNM (Universitas Negeri Makassar), dan USU (Universitas Sumatera Utara). Setelah pengumuman, Anwar dinyatakan lolos program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di UNM. 

Program PMM berlangsung selama satu semester, kurang lebih 4-5 bulan. Kegiatannya mencakup perkuliahan formal yang disesuaikan dengan mata kuliah relevan dan SKS kampus asal. Selain itu, terdapat rangkaian kegiatan modul nusantara yang dilaksanakan seminggu sekali dengan mengunjungi situs budaya, tempat bersejarah, dan desa adat. Ada juga kegiatan berdialog dengan tokoh masyarakat, refleksi mengenai cara dalam menghadapi perbedaan, dan kontribusi sosial dengan berbagi makanan berbuka puasa. 

“Menjadi mahasiswa kupu-kupu tidak terlalu menyenangkan, selama 2 tahun merasa tidak produktif karena hanya ikut UKM. Ketika ada program PMM merasa tertarik dan memutuskan untuk mendaftar. Alhamdulillah, diterima dan aku merasa ini saat yang tepat untuk aku mencari pengalaman dan unjuk kemampuan diri,” ungkap Anwar saat ditanya mengenai alasannya mendaftar PMM. 

Baca Juga: “Kejujuran is About Everything” Fondasi Utama dalam Kepemimpinan 

Bertumbuh dalam Bingkai Miniatur Indonesia

Bukan sekadar kuliah, tapi menjadi miniatur Indonesia. Hal ini karena dari 166 mahasiswa berasal dari daerah yang berbeda-beda. Dari Sabang sampai Merauke, mahasiswa seluruh Indonesia berkumpul di satu tempat untuk melaksanakan rangkaian kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM). 

Awal perjuangannya yakni Anwar berniat untuk mencalonkan diri sebagai kepala suku dengan sistem pemilu dan kampanye. Dia merasa tertantang untuk memimpin kelompok besar dan bagaimana manajemen sumber Daya Manusia di dalamnya. Namun, dia akhirnya terpilih menjadi wakil kepala suku karena kalah suara. Meskipun kalah voting, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Dia berusaha mengemban amanah dengan sebaik-baiknya sebagai wakil kepala suku. Anwar bersama rekannya membangun Kabinet Integrasi untuk menjembatani mahasiswa rantau dengan pihak kampus dan Kemendikbud. 

Petualangan Baru Melalui Program Modul Nusantara

Modul nusantara merupakan kegiatan mengunjungi situs budaya dan tempat bersejarah. Kala itu, Anwar sempat mengunjungi beberapa tempat di Kota Makassar dan sekitarnya, diantaranya Makam Arung Palakka, Benteng Rotterdam, Menara Pinisi, mencoba Coto Makassar, mendatangi desa adat Suku Kajang, dan mendatangi tempat pembuatan Kapal Pinisi, Bantimurung, Desa Wisata Ramang-Ramang, dan Titik Nol KM Sulawesi Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk rekreasi, bonding, dan mengenal lebih jauh kebudayaan yang ada di Makassar dan sekitarnya. 

Strategi Bertahan Hidup di Tanah Rantau

Awal mula dibentuk Kabinet Integrasi yakni untuk koordinasi dan interaksi dengan teman-teman pertukaran mahasiswa yang lain. Mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari kampus berbeda-beda serta lokasi kampus yang terpencar menjadi empat titik membuat sulit untuk bertemu satu sama lain. Karena itu, Kabinet Integrasi berperan sebagai forum yang mewadahi untuk mengikat peserta PMM melalui berbagai kegiatan, seperti jaga malam, bangun sahur, kotak aspirasi dan menfess, makrab, mini pensi, buka bersama, senam pagi, hingga kegiatan dana usaha. 

Apakah Aku Bisa? 

Pennyu Learning Circles

Saat tak terduga terjadi ketika dua bulan terakhir, kepala suku memutuskan mengundurkan diri sehingga otomatis estafet kepemimpinan jatuh pada Anwar selaku wakil kepala suku. Kepercayaan terhadap Kabinet Integrasi pun sempat menurun karena komitmen kepala suku yang lemah. 

Banyak sekali permasalahan yang timbul, seperti tidak adanya Wi-Fi, transportasi menuju kampus, tidak ada lemari, hingga ancaman program kerja yang mangkrak. Karena itu, diselenggarakan forum terbuka untuk membahas lebih lanjut masalah yang belum terselesaikan. Forum diskusi berlangsung selama 5 jam dengan adanya kritik dan hujatan dari berbagai pihak. Pada forum ini terdapat mediator sebagai penengah, meskipun situasinya tidak kondusif Anwar berusaha tetap tenang dan bersikap kepala dingin.

Anwar meminta waktu selama dua minggu untuk menuntaskan masalah-masalah tersebut dan singkat cerita satu per satu masalah terselesaikan. Hasil dari tuntutan teman-teman mencakup Wi-Fi yang terpasang, lemari yang diberikan, serta transportasi berupa bus gratis menuju kampus masing-masing. 

Setelah menuntaskan forum terbuka, Anwar merasa capek secara fisik dan mental. Karena itu, ia berusaha menguatkan diri. Anwar bersama teman-temannya pergi ke Pulau Gusung, sejenak menepi dari rutinitas dengan healing di alam dan grounding dengan duduk di tepi laut untuk menghanyutkan kesedihan dan kelelahan yang selama ini dialaminya. 

Baca Juga: From Craft to Connection

Puncak Cerita dari Perjalanan Panjang

Persiapan kegiatan festival budaya dipersiapkan selama kurang lebih 1 bulan. Festival budaya akhirnya dapat diselenggarakan dengan lancar dan penuh apresiasi. Teman-teman mengucapkan terima kasih kepada Anwar karena telah mengupayakan yang terbaik untuk Pertukaran Mahasiswa Merdeka 4 UNM, mereka kembali percaya pada Kabinet Integrasi. Kemudian, setelah urusan pergantian kepengurusan, akhirnya Anwar mendapat pengakuan secara resmi oleh Kemendikbud sebagai kepala suku. 

Pesan Moral dari Kabinet Integrasi

Dari perjalanan Anwar di Kabinet Integrasi, dapat kita ketahui bahwa pemimpin sejati diuji saat terjadi kekosongan atau saat sistem sedang runtuh. Karena itu, perlu pembuktian untuk dapat mendapatkan kembali trust yang hilang. Selain itu, pada saat terjadi konflik penting untuk bersikap kepala dingin dan pantang menyerah dalam menyelesaikan tanggung jawab. 

“Kalau kamu, apa hal yang belum berani kamu coba sampai sekarang?” Coba tanyakan pada diri sendiri. Siapa tahu kamu bisa dan mampu menaklukkan mimpi besarmu. Jangan berkecil hati, ya!

Anwar berpesan kuncinya yakni berani mencoba hal baru. Keluar dari zona nyaman dan menaklukkan setiap tantangan yang ada. Kesempatan yang disambut dengan kesiapan adalah satu langkah menuju kesuksesan. Jadi, jangan menyerah dan terus perjuangkan mimpi-mimpimu!

Komentar Dinonaktifkan