Cover Artikel Clarista

3 menit

Ketika menginjak usia dewasa kita seringkali dihadapkan pada banyak pilihan. Kemudian, pilihan-pilihan tersebut membawa pada suatu tujuan. Ada tujuan yang direncanakan, ada juga yang tidak sesuai harapan. Namun, pada kenyataannya seringkali terbesit ragu pada diri sendiri. Begitulah yang terjadi pada Clarista, Community Relation Intern saat menggambarkan pengalamannya ketika memperoleh suatu pencapaian.  

Apa Itu Impostor Syndrome?

Apakah Aku Pantas?

Clarista mengutip bahwa fenomena meragukan value diri sendiri saat mendapatkan pencapaian dengan istilah ‘Impostor Syndrome’. Hal tersebut bertentangan dengan sifat Narcissistic Personality Disorder (NPD). Fenomena ini seringkali terjadi saat mendapatkan suatu pencapaian, tetapi merasa bahwa hal tersebut adalah hal yang biasa. Impostor syndrome merupakan perasaan meragukan kemampuan diri sendiri dan ketakutan bahwa dirinya telah menipu terbongkar, serta merasa bahwa kesuksesan yang terjadi hanya kebetulan (Clance, PR & Imes, S., 1978). 

Baca Juga: All You Need Is Less

“Apakah aku pantas?”

“Ah, aku cuman hoki!” 

Kamu pernah nggak merasa tidak pantas? Merasa kurang, tidak keren dan tidak sehebat orang lain. 

Perasaan semacam itu ternyata ada namanya, loh. Sebagian dari kita mungkin belum familiar dengan istilah impostor syndrome. Disebut impostor karena hal tersebut seakan-akan seperti menipu orang lain. Ada perasaan takut terhadap ekspektasi orang lain jika ternyata kemampuan kita yang belum begitu mahir diketahui oleh orang lain. 

Penyebab Impostor Syndrome

Impostor syndrome dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

Perbandingan Sosial

Ketika membuka beranda sosial media kita sering disuguhkan dengan pencapaian orang lain tanpa tahu proses lengkapnya. Contohnya yakni sering membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain ketika membuka beranda media sosial. Padahal, satu unggahan foto dan video hanya menggambarkan hasil, tetapi dapat membangun persepsi seakan-akan hidup orang lain begitu mudah tanpa hambatan. Menurut Clarista, hal tersebut menjadi beban tersendiri ketika ia membandingkan pencapaian dirinya dengan pencapaian orang lain. 

Peran Baru

Clarista juga menggambarkan pengalamannya ketika mulai masuk ke dunia kerja melalui Program Maganghub Batch 1 Tahun 2026. Dari yang semula mahasiswa, kemudian menjadi fresh graduate, hingga mulai masuk ke dunia kerja. Babak baru kehidupan setelah masa kuliah baru dimulai, tentunya dalam menjalaninya perlu adaptasi dengan banyak belajar hal baru. Clarista mengaku sempat merasa inferior karena rasa takut tidak dapat menyesuaikan diri di lingkungan baru. 

Attribution Bias

Kesalahan dalam mempersepsikan kesuksesan dan kegagalan membuat diri sendiri kewalahan. Ketika mendapatkan kesuksesan cenderung mengartikan hal tersebut hanya kebetulan dan ketika mendapat kegagalan merasa pantas sebab ada perasaan belum cukup dalam diri. Karena itu, sedari awal penting untuk meregulasi emosi dalam merespons kesuksesan maupun kegagalan. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda dan keberhasilan adalah satu langkah lebih maju dalam hidup. 

Perfeksionis

Sikap perfeksionis karena standar hidupnya terlalu tinggi sehingga merasa belum cukup. Clarista menyadari bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup, akan selalu ada celah kekurangan. Ketika mendapatkan suatu pencapaian seringkali terbesit perasaan belum cukup dan belum mampu. Hal tersebut membuat Clarista mempertanyakan “Apakah standarku terlalu tinggi?” dan “Apakah aku pantas?”

Di awal menjalani program magang, Clarista sempat meragukan kemampuannya. Namun, seiring waktu ia dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja di Pennyu. Mentor dan staf yang interaktif dan teman yang suportif sangat membantunya dalam menjalani masa awal magang. Setelah memahami lingkungan dan ritme kerja, usahakan dapat membangun komunikasi efektif untuk menumbuhkan rasa empati. Hal utama yang bisa dilakukan yakni melalui Senyum, Salam, dan Sapa (3S). 

Olinda, Project Opportunity Intern menambahkan bahwa dirinya juga termasuk orang yang perfeksionis yang seringkali takut memulai sesuatu. Ketika mendaftar program Maganghub, Olinda juga merasa takut bersaing dengan sesama fresh graduate yang memiliki lebih banyak pengalaman. Lantas, timbul overthinking dan ragu pada diri sendiri. Namun, pada akhirnya Olinda menyadari bahwa rezeki tidak akan tertukar. Jika sudah jalannya dan percaya pada diri sendiri pasti akan bisa menggapainya.

Baca Juga: Membangun Hubungan dengan Baik untuk Mengembangkan Diri 

Cara Mengatasi Impostor Syndrome

Bagaimana cara mengatasi impostor syndrome? Clarista berbagi pengalamannya dalam mengelola perasaan, belum cukup dalam diri. Ia mengatakan bahwa langkah awal yang dapat dilakukan yakni dengan mengakui bahwa diri sendiri layak mendapatkan pencapaian. 

“Akui bahwa dirimu sendiri pantas dan berhak mendapatkan kesuksesan karena kesuksesan tersebut hadir dari serangkaian usaha”, timpalnya.

Lebih lanjut, Clarista mengatakan bahwa kita tidak sendiri. Coba lihat dan sadari keberadaan orang-orang di lingkungan sekitar. Ada orang lain yang dapat menjadi tempat bertukar pikiran, berkeluh-kesah, dan menemani masa sulit maupun bahagia. Maka dari itu, coba cari lingkungan positif yang dapat membantu bertumbuh dan berkembang lebih baik. Niscaya hal tersebut dapat membantu mengelola energi negatif yang ada dalam diri.

Clarista berpesan bahwa sikap perfeksionis juga perlu dikelola dengan bijak. Sikap perfeksionis tidak selalu buruk, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat berdampak negatif untuk diri sendiri dan orang lain. Sikap terlalu berorientasi pada kesempurnaan dapat membuat kita merasa kurang dan terjebak dalam batasan yang kurang sehat. Karena itu, cobalah untuk merasa cukup dan tentukan batasan yang bijak. 

Just Do It

Hidup akan terus berjalan, so just do it! Clarista menyadari bahwa ia hanya perlu waktu untuk menerima dan berani mencoba. 

“Lakuin aja dulu, kalau misal hasilnya kurang maksimal atau tidak sesuai harapan dapat diperbaiki di kemudian hari. Jadi, nggak perlu terlalu khawatir. Coba aja dulu, lebih baik gagal ketika sudah mencoba daripada gagal karena tidak mencoba sama sekali.” 

Mengakui Bahwa Diri Sendiri Layak dan Pantas

Pada kesimpulannya, Clarista bilang bahwa kita pantas untuk mendapatkan hal-hal baik. Kalimat tersebut juga menjadi pengingat untuk dirinya sendiri. Be yourself, love yourself! Jadi, ketika muncul pertanyaan “Apakah aku pantas?” Jawabannya adalah “Kamu layak dan kamu pantas”. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, berhenti membandingkan dengan orang lain dan berdamai dengan keadaan dapat membantu dalam bersikap tenang menjalani hidup. 

Komentar Dinonaktifkan